Ibu Siapa
"Nizar Qabbani was right: Aku bersaksi tiada perempuan selain engkau"
Song Of The Day:
Sejak Siapa kecil, ibu selalu jadi orang paling baik, manusia paling murah senyum, dermawan, tapi Siapa tidak bisa memaknainya sebagai malaikat tak bersayap. Karena di mata Siapa, ibu juga suka marah-marah.
Ibu juga manusia biasa.
Siapa punya ingatan yang buruk alias tidak bisa mengingat sesuatu dengan baik sehingga memori kenangan bersama ibu juga tidak banyak yang mampu Siapa ingat.
Ibu baik, Siapa sering melihatnya menyiram tanaman dan bunga-bunga di rumah, bunga yang disiram oleh ibu setiap pagi hari dan sore hari bahkan ikut tersenyum, kadang ibu meminta bantuan Siapa untuk menyiram bunga-bunga kesukaannya. Tak jarang ibu juga mengajak bicara bunga-bunganya itu,
“Halo bungaku, kamu pasti seneng ya disiram, seger pasti!”
Begitulah
khayalan ibu ketika bersama bunga-bunganya.
Siapa hanya menatap tanpa
membalas khayalan ibu
dan ibu selalu tertawa.
Ibu baik, di rumah, setiap hari ada penjual lauk pauk yang lewat menawarkan dagangannya yang bahkan bukan seleranya. Tapi tetap ia beli. Faktor internal lain, ibu tidak pintar memasak (katanya) sehingga pasti ibu membeli dagangan ibu penjual lauk pauk tersebut.
Hampir setiap hari dibeli. Semoga tidak bosan.
Suatu hari, si penjual lauk pauk mengadu kepada ibu, bahwa ayam di rumahnya butuh makan,
“Bu,
ada sisa nasi enggak
di rumah ibu, kalau ada, buat saya aja ya bu.. boleh?” tutur sang ibu penjual
lauk.
Sejak saat itu, ibu punya aktivitas baru, selalu membungkus nasi sisa makan dengan plastik bertuliskan “Kurangi sampah plastik!” untuk diberikan kepada ibu penjual lauk itu.
Lagi, ibu baik.
Ibu
adalah manusia paling murah senyum. Mungkin, otot-otot di sekitar bibirnya pun lelah mengikuti lekukan senyumnya.
Waktu berlalu, Siapa
masih sangat belia dan belum siap melihat diskusi hebat bahkan sampai
menggunakan gerakan fisik yang bukan pelukan terjadi pada ibu. Siapa mungkin tidak pernah tahu
apa tema diskusinya
waktu itu, yang Siapa pahami,
ibu sampai perlu
teriak-teriak untuk menyahut
diskusi dengan seorang lelaki.
"We don’t spell his name, You-know-who." someone said.
Mungkin karena Siapa masih kecil, Siapa hanya bisa memerhatikan tanpa paham diskusi yang Siapa lihat. Diskusi itu sampai membawanya pada pertanyaan,
“Mau ikut siapa?”
Pertanyan paling sulit jika dibanding rumus layang-layang dalam Mata Pelajaran Matematika kelas 3 SD. Belum juga Siapa menjawab pertanyaan yang
susahnya minta ampun, ibu juga mengajak bicara dan berkata, “Mungkin ibu akan ikut
dengan orang lain, ibu bulat untuk walk out dari diskusi ini, ingin menenangkan diri.”
Siapa sama sekali tidak pernah berpikir ibu bisa tega mengatakan itu. Berniat meninggalkanku?
Bahkan walk out.
Meninggalkannya, sendiri.
Pada saat itu, yang Siapa pikirkan hanyalah kenapa bisa kesedihan ini berujung sampai tidak punya berujung.
Tapi, ibu masih menjadi manusia paling murah senyum. Karena pada saat yang sama, ibu masih bisa tersenyum dan menanyakan kabar wanita lain, yang aku juga mengenalnya, dengan cukup baik.
Pernah bersama membeli baso dengan mengendarai motor ditemani angin sore sepoi-sepoi yang mendera rambutku, manis bukan?
Waktu berlalu lagi dan Siapa tumbuh dewasa hingga umurnya membuat lupa akan diskusi dan pertanyaan tersebut yang sulit dijawab Siapa.
Pada waktu itu, Siapa buru-buru menelefon ibu.
“Halo.” Siapa menyapa.
“Ibu butuh Siapa. Siapa satu-satunya harapan ibu.”
Siapa tidak mengerti apa
maksud dan tujuan ibu waktu itu. Tapi seiring ibu bercerita semuanya tentang
apa yang terjadi Siapa akhirnya
mengerti. Memang harus pelan-pelan.
Rumus layang-layang gagal dipahami Siapa, dan layangannya
putus.
Ibu sudah melalui hal-hal berat dalam hidupnya, mulai dari kondisi fisik yang tidak sama dengan ibu lain. Hidup dengan lelaki yang kita tidak bisa eja namanya,
Tapi, itu tidak menyurutkan senyumnya, setiap hari. Sudah... gila?
Ibu kehilangan ayahnya karena perpisahan yang tidak terelakan, dan harus menerima sosok ayah baru dalam hidupnya, itu hal sulit. Tapi ibu bisa melaluinya dan tetap tersenyum, hingga hari ini.
Ibu adalah sosok yang kuat. Sosok yang selalu mengajarkan bahwa senyum itu mudah, kok.
Dipaksa saja!
Karena
faktanya, otot yang dibutuhkan untuk tersenyum lebih sedikit daripada otot
untuk cemberut, kan? Ibu
mengajarkan bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa
diselesaikan. Time will heal us.
Ibu bilang,
bahwa jika Siapa
nanti hadir,
akan membuat harap
ibu menjadi lebih hidup.
Siapa masih menunggu senyum ibu setiap harinya, karena
hingga saat ini, senyum yang Siapa lihat, bukan senyum ibu yang sebenarnya Siapa asumsikan.
Maksud Siapa,
“Ibu boleh menangis.”
- THE END -
see u on the next paper :)
Komentar
Posting Komentar