Under The Blue Side



"Ternyata gue harus bisa salah untuk kenal sama diri gue."

Song Of The Day: 
Blue Side by j-Hope (BTS)


Halo, perkenalkan aku Ahimsa. 

Aku anak dari dua bersaudara di keluarga kecilku. Aku tumbuh bahagia bersama ayah dan ibuku di rumah kami, rumah sederhana kami, yang selalu terasa mewah dan sejuk, walau tentu tidak semewah kerajaan Pangeran Philip di Inggris. Rumah mewah kami dikelilingi banyak pohon buah yang daunnya hijau menawan dan tanaman hias yang disirami rutin oleh ibuku.

Senyum manis ibuku, asap rokok ayahku yang terus mengepul dan celetuk akrab adikku yang mengisi kesunyian rumah ini, dan, itu yang membuat rumah ini masih mewah, selalu mewah dan hangat di rasa.

“Ayah lagi beli martabak, mau ga?”

“Kebab ada?” tawarku.

“Tutup.”

“Ok, martabak asin satu.” keputusan yang sama setiap minggunya.

Salah satu yang membuat rumah kami terasa hangat adalah karena setiap malam minggu ayah membelikan martabak asin untuk kami. Bisa jadi, Pangeran Philip pun ingin mencicipi martabak asin di perempatan jalan menuju rumah kami ini.

Walaupun bisa saja Pangeran Philip cemburu dengan martabak yang aku makan tiap akhir pekan, tapi keluargaku juga kadang mengalami masa-masa di mana, bisa jadi, bahkan, Pangeran Philip tidak ingin menjadi bagian dari keluarga ini. 

Maaf, tapi itu yang aku tahu.

**

Aku Ahimsa, aku bahagia. Aku tumbuh bahagia hingga dewasa kini. Aku sekarang sudah berumur kepala dua. Dan, aku, bahagia.

Setidaknya itu yang aku ketahui sejak aku dilahirkan ke dunia ini.

Aku suka banyak berbicara kepada banyak orang. Tanpa terkecuali kepada anggota keluargaku. tapi aku juga suka menulis untuk mencurahkan banyak hal lain yang tidak bisa aku ceritakan kepada anggota keluargaku dan orang lain. 

Aku, sangat mengenal diriku, salah satunya adalah bahwa aku dekat dengan banyak orang, tak terkecuali keluargaku.

Setidaknya itu yang aku ketahui hingga saat ini.

Hingga saat inipun aku sangat menikmati informasi yang aku ketahui mengenai bahagiaku ini.

Aku juga sangat suka membaca buku, buku favoritku kini masih tidak berubah semenjak terakhir aku membacanya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat yang ditulis Mark Manson.

Setidaknya, buku itu yang membantuku masih bisa menjaga kewarasanku di tengah begal jiwa yang terjadi dalam diriku.

**

Aku tidak pernah merasa sakit, aku merasa sangat sehat. Apalagi semenjak seseorang mengajariku untuk selalu rutin meminum air putih ketimbang air gula bersoda yang suka aku beli di toko depan rumahku. Namanya Yurandi. Namanya memiiki arti yang indah dan valid bagiku, yaitu kekuatan. Yap, betul. Kehadiran Yurandi bagai kekuatan dari Dewa Barat yang menerpa jiwaku.

Setidaknya itu yang aku tahu mengenai tubuhku. Organ tubuhku. Hatiku. Entahlah. Dan, Yurandi.

Tapi aku tetap manusia biasa, dan tidak jarang aku merasakan rasa sakit yang sulit dijelaskan. Sakit yang tidak bisa aku ungkapkan. Bahkan aku bingung, ini rasa sakit atau hanya rasa yang aku buat sendiri?

**

Aku ingin bercerita sedikit tentang Yurandi yang mengingatkanku untuk rutin minum air putih. Dia teman dekatku, teman rumahku. Memang harus menggunakan sepeda motor jika ingin berkunjung ke rumahnya. Terdengar sulit dijangkau dan jauh untuk aku, kaum tidak bisa berkendara. Pecundang~

Tidak perlu khawatir, itu tidak akan pernah terjadi.

Aku harap itu akan terjadi suatu saat nanti.

Tapi entah kapan.

Saat pernikahannya dengan orang lain?

Astaga, kenapa jadi jauh sekali percakapan kita kali ini?

Aku, yang selalu bersahut-sahutan dengan aku-ku yang lain.

**

“Gue tau gue brengsek Him, gue tahu lu suka sama gue. Tapi kenapa ya gue suka sama orang lain?”

Bukahkah harusnya dia mengajukan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri?

Jahat sekali.

Aku, dalam hati.

Saat itu, aku merasakan air dingin menerpa wajahku padahal tidak ada yang menyiramku. -- karena pertanyaan sekaligus pernyataan Yurandi tadi. Aku beku namun di saat yang sama aku masih bisa merasakan hatiku yang ingin menjangkaunya. Aku masih belum sadar bahwa aku juga harus menghormati keputusan Yurandi, untuk tidak menjadi spesial di hatiku.

**

Mengakhiri usia belasanku, aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda.

Aku ingin lebih rajin menulis agar aku yang di dalam bisa keluar.

Ya, keluar menjadi tulisan. Setidaknya, itu yang aku tahu.

 

#Day 1

Kadang gue mikir, apa iya gue cuma pencitraan. Apa gue ikhlas dengan semua ini? Apa cuma poker face? Apa iya gue cinta ama dia? Beneran ga si........

Kadang gue seragu itu sama diri gue sendiri. Dan ga jarang gue close the door aja. Udah gitu. Selese. Tapi ya ga selese. Tetep, besok-besok gue mikirin lagi soal itu. Yang sebenernya, kalo gue pikir-pikir lagi, ngapain juga gue mikirin itu. Gue masih banyak kerjaan yang pasti yang harus gue kerjain dibanding mikirin... Elu.

Elu siapa gue juga ga paham, apa itu temen gue, laki-laki yang gue suka, orang tua gue, sodara, atau.. gue sendiri. Ga paham gue.

Sekarang gue cuma lagi belajar gimana ngurus perasaan gue. Karena ternyata perasaan kita, itu engga hanya beresiko tersakiti, tapi juga menyakiti.

Salam dari diriku yang lain, Ahimsa. yang takut banget nyakitin.

But I’ve done it many times, (still judging my self, ugh!)

 **

Aku suka gaya menulisku yang antagonis terhadap diriku.

Aku merasa lebih sehat. Apalagi jika ditambah darah bening yang terus mengalir deras tiap kali aku menuliskan kisah aku-ku yang lain.

Aku merasa lebih hidup dan terlahir kembali.

Hari demi hari aku jalani begitu saja. Aku menikmati setiap todongan yang aku berikan kepada diriku, dan aku-ku yang lain. Seperti yang sudah aku rasakan sebelumnya, aku merasa sehat dan semakin sehat. Bahkan aku merasa hidup kembali.

Aku mempunyai banyak teman.

Huh.. sombong sekali

Setidaknya itu yang aku tahu dan itulah todongan yang aku sampaikan pada aku-ku yang lain.

Aku selalu berusaha menjadi teman yang baik. Setidaknya itu yang aku tahu-- yang harus aku lakukan sebagai manusia yang tidak tinggal sendirian di planet biru bernama Bumi ini.

Setidaknya…

Namun aku tetap hanya manusia yang hanya bermodalkan salah dan lupa bahkan sebelum penjanjianku dengan Tuhan.

Setidaknya, itu yang aku tahu.

Jadi, aku membuat banyak kesalahan.

Kesalahan yang sangat amat banyak hingga aku kehilangan banyak teman -- bahkan aku kehilangan Yurandi, kan? Setidaknya ketika aku menuliskan ini. Ya, setidaknya itu yang aku tahu.

Rasakan!

Puas sekali aku ketika sudah menodong diriku ini.

Terima kasih, aku-ku yang lain.

Saatnya menulis. Aku-ku yang lain butuh tempat.

 

#Day 2

Dan sekarang gue lagi belajar, iya bahwa kita punya kontribusi dalam kesalahan orang lain, dan berbuat salah, pastinya. yang paling penting adalah kita ga nyalahin diri sendiri.

Gue ngerasain sendiri hasil dari instrospeksi diri gue yang berlebih, iya, gue nyalahin diri gue sendiri.

Nyalahin diri sendiri itu ga nyelesain masalah. Gue malah sakit sendiri.

Bisa bisanya gue jatuhin diri sendiri hanya untuk ngebelain orang lain?

It's not love. It's sacrifice. And it sacrifice yourself. God damn.

And sometimes... Love doesn't need sacrifice anymore. Love is love. No need anything. Love needs love. Dan ketika cinta lu ga berbalas, ya ga papa.

 **

Aku dan Yurandi tidak bertahan lama, bahkan lebih pendek dari umur nyamuk. Aku memang egois, aku kira aku bisa mengikat Yurandi erat dengan perasaanku yang tidak beralasan ini. Tapi, setelah menyadari dan melewati keegoisanku, aku paham bahwa untuk apa kita berpegangan pada sesuatu yang melepaskan diri?

Sia-sia.

Aku ingat kalimat Sujiwo Tejo, seniman bergelar sarjana matematika itu alumni ITB itu, bahwa "Kita bisa berencana menikah dengan siapa, namun tidak akan pernah bisa kita rencanakan, cinta kita untuk siapa." 

Mendapatkan Yurandi sama saja seperti kita memancing ikan di langit.

Mustahil.

Sia-sia dan kini mustahil,

Kenapa tidak kiamat saja?

Bisikku. Menyendiri.

**

Aku yang terkadang bisa mengontrol penuh apapun yang aku rasakan, sangat bersyukur dengan hal itu.

Setidaknya aku tidak begitu gila.

Dan selalu gagal membunuh diriku.

Setidaknya, jangan hari ini.

 

Jangan mati dulu, aku masih sayang.

Terima kasih, aku-ku yang lain.

 

**

#Day 3

Either they want to setting boundaries or just ignore you, It doesn't matter.

Just be you. IT'S OKE.

if someone can not accept u, SO IT'S THEIR BUSINESS, not yours.

If someone can not be happy with u, SO IT'S THEIR BUSINESS too.

No need to be someone for anyone. Stop. We are not for everyone, and that's REALLY OK. 

But I'm not oke dude.. really….. I still, blaming my self… while loving you.

 **

Belum selesai dengan Yurandi, aku tiba-tiba mendapati semua kesalahan yang aku lakukan, aku sangat menyadari itu. Bahkan aku ingat detail bentuk kesalahanku. Semua yang kau katakan, aku perbuat, tergambar jelas, sejelas bagaimana ketika kita mengetahui bahwa satu ditambah satu sama dengan dua.

**

“Aku ingin mengakui kesalahanku, dan tolong terima itu.” aku mengawali pembicaraan kepada temanku melalui sambungan telefon tua berwarna kuning cerah agak kusam dimakan debu.

“Enggak bisa. Aku tau ini klise, we’re just not work. Aku lagi ga mau ngehubungin kamu lagi, aku lagi ga mau komunikasi sama kamu lagi.” sahutnya tegas.

“Aku tau aku salah hei, tolong aku harus apa biar kamu enggak begini?” aku tau, aku sedikit memaksanya di sini. Tapi saat itu, yang aku tau adalah, aku harus menahannya. Aku tau ini salah, tapi aku menyayanginya.

“Kamu ga salah Him, stop minta maaf..” jawabnya singkat.

Dan saat itu, rasanya seperti air dingin lagi yang menyerang wajahku dengan kecepatan lebih dari kecepatan cahaya. Rasanya seperti berpegangan pada sesuatu yang melepaskan diri lagi. Apa yang terjadi? Sepertinya sudah sangat jelas, ketika gravitasi lebih ganas dari Thanos. Semuanya tidak menjelaskan apa-apa, tapi hancur.

 

Tolong, aku hanya ingin kamu mengakui aku salah dan tolong maafkan aku.

 

#Day 4

Mengakui kesalahan itu bagus.

Tapi ternyata ga semua orang butuh pengakuan salah dari kita,

They are as simply as they just don't wanna be involved anymore.

Stop crying. It's true and sad. But, just stop cry. Keep it. You'll need it later.

For another heart-break, sweetie.

 

Aku kembali menuliskan apa yang aku rasakan. Dan itu adalah aku-ku yang lain, bukan Ahimsa, aku-ku yang lain, yang sangat bijak menasehati.

Aku-ku yang lain, yang harusnya aku dengarkan, kali ini.

Malah aku abaikan.

Aku jatuh sangat dalam pada hari di mana aku bercakap dengan temanku.

Aku yang memutuskan untuk menghubunginya lagi setelah sekian lama kita memang sudah tidak saling bercakap, karena kesalahanku.

Rasanya seperti memakan roti kadaluarsa.

Masih ada rasanya, tapi rasanya beda.

**

Aku tidak percaya aku bisa melakukan ini. Awalnya aku hanya berusaha. Karena aku sangat yakin, aku tidak akan bisa melakukannya.

Setahuku, aku sudah banyak melakukan kesalahan dalam hidupku.

Terhadap dia,

Terhadap temanku,

Terhadap, diriku sendiri.

Tapi aku tidak percaya akhirnya aku berhasil melakukan ini.

Aku berhasil untuk tidak lupa, tapi aku memaafkan diriku. Ya, aku memaafkan diriku. Selama ini, aku sangat mengenal diriku hingga lupa untuk sadar bahwa ada sisi lain dari diriku yang belum aku ketahui, bahwa aku lemah, berbuat salah dan tukang lupa. Dan bahwa semua itu tidak papa, sebenarnya aku pun tahu sisi itu namun aku menolak untuk mengakuinya, memakluminya. Mungkin aku mengakuinya dan memakluminya, tapi aku lupa, untuk memaafkan diriku.

 **

Sejauh ini, aku belum banyak menulis lagi.

Ini tulisan terakhir aku-ku yang lain.

 

#Day 5

Kenapa gue udah ga ngerasain kecewa lagi ya?

Kenapa gue udah ga sedih lagi?

Kenapa gue udah ga marah lagi?

Kenapa ya?

Padahal gue masih pengen.

Tapi kenapa juga, gue masih (cuma) menyisakan satu hal.

Gue gamau;

Gue ga mau liat.

Gue ga mau tau.

Gue ga mau denger.

Apapun, tentang kamu, lagi.

Walopun kadang gue masih "kepo" sama kamu, tapi tetep, semua perasaan itu udah enggak ada. 

Udah beda. Ada, tapi beda.

Gue kadang masih mau liat-liat gimana kamu sekarang, -- kenapa ga cerita lagi?

(Sampe mana?)

(Lagi ...... Ya?)

(Eh eh, gue baru dengerin ini lho)

(Seru banget gilaakk film ini)

Kenapa, enggak, cerita, lagi..?

Padahal jawabannya juga udah gue tau si, kamu ga mau.

:)

Dulu gue sedih banget denger itu dari kamu. Tapi sekarang, segimana gue coba buat inget dan ngulang itu di otak gue, gue udah ga punya "emosi" itu lagi...

Gatau deh, ini baik apa engga.

Yang pasti gue sekarang lagi belajar buat lebih hati-hati aja "melabeli" seseorang, sesuatu, apapun itu. Termasuk diri gue.

Gue juga lagi belajar untuk ga makan asumsi gue.

Gue selalu suka, sisi diri gue yg selalu konfirmasi -- apa yang sebenarnya terjadi.

Suka banget. Walopun teakhir kali gue konfirmasi, gue kayak disiram air dingin.

Walopun kadang gue kecewa setelah engga "makan" asumsi gue itu.

Tapi, gue cukup "sehat" dengan enggak makan asumsi gue.

Tentang kamu, akan jadi jalan cerita idup gue yang bakal gue selalu simpen, tapi gue ga mau inget lagi di waktu-waktu senggang gue, yang biasanya emang buat kamu. Makasih. :) 

p.s

I don't keep memories.

 **

Aku menutup kisahku dengan temanku, dengan Yurandi yang mengingatkanku untuk rutin minum air putih dan rumahku yang hangat dengan cukup indah.

Aku yang masih dan semakin mengenal diriku. Aku yang selalu suka bercerita dan mendengar cerita orang lain. Aku yang suka menodong diriku, tapi selalu gagal membunuh diriku, aku yang selalu menulis, akan selalu menjadi seperti itu. Tentu akan, dan selalu banyak hal di dalamnya berubah, seperti rasa roti yang kadaluarsa, tapi tidak papa. Kita bisa beli roti yang baru diangkat dari oven atau belajar membaca tanggal kadaluarsa pada kemasan rotinya, kan?

Selagi kita menjadi diri kita seutuhnya, mengenal diri kita dan orang lain, berbuat salah, mengakui dan memaafkannya, kita tidak akan membunuh diri kita sendiri atau pun orang lain. Kita akan bertahan, untuk cerita kita dulu, sekarang dan besok. Kita akan selalu siap untuk segala todongan, air dingin yang menerpa wajah kita sewaktu-waktu atau roti kadaluarsa yang tidak sengaja kita makan.

 

Forgive yourself.

Because, no one is going to do it for you.

Everyone is going through something too.

be kind. (kayak lagunya Halsey, ehehe)

Dari Ahimsa, untuk aku-ku yang lain.

- THE END -

see u on the next paper :)


 

Komentar

Posting Komentar